Resensi Film "The Flu"

IDENTITAS
Judul: The Flu
Negara: Korea
Sutradara: Kim Sung-su
Produser: Kim Sung-jin, Seo Jong-hae, Jeong Hoon-tak, Im Young-ju
Penulis: Lee Yeong-jong, Kim Sung-su
Pemeran: Soo Ae, Jang Hyuk, Park Min Ha
Produksi: iFilm Corp.
Tahun Terbit: 14 Agustus 2013
Durasi: 121 Menit


ORIENTASI
Awal tahun 2020, film The Flu asal dari Korea ini kembali hangat dibicarakan setelah lama tayang pada tahun 2013. Meningkatnya rating film tersebut dikarenakan virus Corona yang berawal di pusat China, Wuhan yang meluas dan menyebar begitu cepat ke negara-negara lain. Sehingga menimbulkan ketakutan di dunia. Film ini disebutkan seperti penggambaran nyata kondisi virus Corona, sehingga banyak nilai moral yang dapat diambil.

SINOPSIS
Film The Flu merupakan film yang menceritakan kekacauan di Kota Bundang akibat virus H5N1 (flu burung) yang menular dengan cepat dan merenggut banyak korban jiwa. Seluruh warga Kota Bundang pun harus dikarantina oleh pemerintah sebagai upaya untuk mengurangi jatuhnya korban. Virus tersebut dapat menular melalui udara dengan gejala batuk parah dan mematikan korban hanya dalam waktu 36 jam.

Cerita berawal dari Kota Bundang yang tenang terlihat mobil seorang dokter cantik sekaligus sebagai Ibu yaitu Kim in Hae yang jatuh pada poros tambang. Lalu, ditolong oleh anggota Emergency Response Team (ERT) Kang Ji-goo dan Bae Kyung-ub. Suatu hari di Contagion Center Bundang Dr. Kim in Hae kehilangan data penting yang ternyata tertinggal bersama tasnya di mobil yang terjatuh tersebut. Kang Ji-goo anggota ERT yang menemukannya dan memberikan tas itu kepada putri yang sangat dicintainya, Mi-reu. Dari kejadian tersebut Kang Ji-goo selalu kepikiran dan mengidam-idamkan Dr. Kim in Hae.

Sementara penyakit virus H5N1 ini datang dari sekelompok imigran gelap yang diselundupkan dari sebuah pelabuhan di Hong Kong ke dalam kontainer pengiriman dengan tujuan akhir Korea Selatan. Kelompok tersebut mayoritas dari Asia Tenggara dan berhari-hari mereka tidak dikasih makan. Di dalam kontainer, ada salah satu imigran yang membawa virus mematikan dan sangat menular. Sementara, Byung-Ki dan Byoung-Woo pergi ke kontainer pengiriman untuk membebaskan para imigran. Tetapi, ternyata mereka malah menemukan tumpukan mayat, kecuali satu orang yang sedang flu tersebut berhasil bertahan hidup dan kabur, bernama Mon Sai.

Kakak beradik kurir ini, Byung-Ki dan Byoung-Woo memutuskan membawa Mon Sai ke tempat bos mereka. Sepanjang perjalanan, si adik, Ju Byung Woo, menunjukkan tanda-tanda demam dan flu yang semakin parah. Begitu tiba di Bundang, Ju Byung Ki memutuskan membawa adiknya berobat ke dokter.

Di sinilah awal mula virus tersebut tersebar.

Setiap kali batuk, Ju Byung Woo tidak pernah berusaha menutup mulutnya. Dengan penggambaran  efek slowmotion bagaimana virus-virus tersebut mulai keluar dari mulut Ju Byung Woo dan bersarang di orang-orang tersebut. Lalu dibawa keluar dari rumah sakit oleh kakaknya, Byung-Ki dan disebarkan lagi ke orang-orang lain. Virus ini banyak ditularkan melalui tetesan pernapasan seperti batuk, bersin, hingga kontak langsung dengan penderita. Melihat kondisi Ju Byung Ki yang kewalahan mengurus adiknya, Mon Sai pun memanfaatkan situasi ini untuk kabur. Sementara, Ju Byung Ki akhirnya membawa adiknya ke rumah sakit karena kondisinya yang semakin parah.

Ju Byung Woo akhirnya dibawa ke ruang isolasi rumah sakit. Salah satu dokter yang bertugas, sekaligus tokoh utama film ini, Kim In Hae memvonis Ju Byung Woo dengan penyakit H7N9 atau versi terbaru dari Flu Burung (H5N1). H7N9 ini juga belum ditemukan obatnya. Bundang dengan cepat berubah menjadi kota zombie. Perwakilan WHO Leo Snyder (Boris Stout), Presiden Korea Selatan (Cha In Pyo), Perdana Menteri Korea Selatan (Kim Ki Hyeon), hingga tentara Korea Selatan dan USFK (United State Forces Korea) pun turun tangan. Bundang resmi diisolasi dari dunia luar agar virus pandemik ini tidak menyebar.

Seluruh warga Bundang dikumpulkan di satu stadion dan diperiksa satu-satu, sebelum dibawa ke kamp-kamp bernomor. Mereka yang terbukti terpapar virus, akan dipisahkan dan dibakar hidup-hidup. Sedangkan mereka yang tidak terjangkit H7N9, dilepaskan namun tetap tidak bisa keluar dari Bundang. Bahkan lebih parahnya, pihak WHO dan Perdana Menteri Korea Selatan sepakat untuk membumihanguskan Bundang agar virus ini tidak menyebar.
Ketegangan film ini semakin memuncak saat dokter cantik Kim In Hae harus berjuang bersama salah satu anggota pemadam kebakaran, Kang Ji Goo. Keduanya harus bersaing dengan waktu untuk membuat obat H7N9 dari imunitas Mon Sai dan menyelamatkan putrinya yang terkena virus, Kim Mi Reu yang terpapar virus dan seluruh warga Bundang lainnya.

ANALISIS
Menurut saya, tema cerita The Flu ini sesuai pada porsinya, mudah dipahami dan sangat menarik karena mampu membuat penonton ikut diombang-ambing sepanjang alurnya. Selain ketegangan dan kekacauan sebuah kota akibat wabah virus mematikan yang tiba-tiba meluas dengan pesat, film ini juga megajarkan rasa kasih sayang antara Kim in Hae seorang dokter cantik sekaligus Ibu yang selalu menjaga Kim Mi Reu sampai rela menyusup untuk melindungi dan menyebuhkan anaknya yang terkena virus H5N1. Tidak kalah penting juga peran Kang Ji Goo sebagai anggota ERT seperti jatuh hati dengan sikap dari Ibu Kim Mi Reu tersebut yang terlihat selalu melindungi dan mendukung demi kebaikan mereka.

Pada virus ini sendiri dapat digambarkan bahwa penyakit flu sangat cepat tertular dan sebaiknya harus memakai masker atau menutup mulut saat batuk ataupun bersin agar tetesan tersebut tidak merugikan orang lain yang dampaknya bisa sampai satu kota seperti pada film. The Flu memberikan sajian film dengan para pemain yang profesional seperti Soo Ae sebagai Kim in Hae, Jang Hyuk sebagai Kang Ji Goo dan Park Min Ha sebagai Kim Mi Reu. Penokohan mereka terbilang sangat keren dan totalitas hingga anak kecilnya karena mampu menyampaikan pesan film ini secara baik kepada penonton.

EVALUASI
Kelebihan dari Film ini ialah banyak pelajaran yang dapat kita ambil mulai dari kesetiaan menjaga keluarga sampai kepada kewaspadaan pada sebuah penyakit. Film ini memiliki emosional dan alur yang jelas. Sementara pada kekurangannya, saya pribadi belum menemukan karena ini hanyalah sebuah film penggambaran wabah penyakit. Sebaiknya harus dicerna lebih teliti dan tidak diterima secara mentah oleh rasa panik secara berlebihan seperti pada virus Corona yang sudah masuk ke Indonesia di awal tahun 2020 ini.

Meski The Flu dengan virus Corona di Wuhan sedang sama-sama diisolasi dari dunia luar, kondisi Wuhan tentu jauh lebih baik, karena ini bukan dalam film. Tentu saja, sejauh ini, tidak pernah ada rencana untuk membumihanguskan Wuhan. Bahkan, akses komunikasi masih terbuka dengan bebas di kota-kota yang diisolasi, tak seperti di dalam film The Flu. Virus corona juga tidak semematikan H7N9 di film The Flu, yang bisa membunuh dalam waktu 36 jam. Dari lebih dari 7 ribu kasus Corona yang terkonfirmasi di China per 29 Januari 2020, ada 170 orang yang meninggal. Artinya, tingkat kematian akibat virus Corona juga sangat kecil, yaitu sekitar 3-4% atau jauh lebih rendah dibanding virus SARS dan MERS yang masih satu keluarga (kumparan.com).

Saran kepada penonton, selain The Flu sebenarnya masih ada beberapa referensi film lain yang mengambil cerita soal penyebaran penyakit mematikan yang mungkin bisa kalian tonton. Mulai dari serial drama Korea Selatan sepanjang 10 episode The Virus (2013), Deranged (2012), Contagion (2011), Fatal Contact: Bird Flu in America (2006), Outbrake (1995), 28 Days Later (2002), hingga drama Jepang Bloody Monday (2008) dan Bloody Monday II (2010).

Meski virus Corona memang tak semengerikan virus H7N9 di film 'The Flu', namun kita tetap perlu waspada sewajarnya dan melakukan upaya-upaya pencegahan.

Thank you :D 

Cyntia Yuniar
210104170055
MPMB

Comments